Tokoh Emansipasi Wanita : R.A Kartini

oleh -353 views

“Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan di didik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa bahagia baginya” (Surat R.A Kartini kepada Nyonya Van Kool, Agustus 1901)

Kartini, Terguncang Hebat Saat Gagal Sekolah ke Belanda - News Liputan6.com

Pengaruh dan kontribusi R.A Kartini melalui tulisan tentang kaum perempuan Indonesia yang termarginalkan membuatnya dikenal sebagai pelopor emansipasi wanita pribumi kala itu.

Memiliki nama asli Raden Adjeng Kartini Djojo Adhiningrat merupakan putri dari keluarga bangsawan dari seorang ayah bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan ibu bernama M.A Ngasirah. Melihat silsilah keluarganya, Kartini merupakan keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono VI dari garis keturunan ayahnya.

Karena statusnya itu, Kartini kecil berkesempatan untuk menempuh pendidikan di Europese Lagere School (ELS). Namun menginjak usia 12 tahun, kartini pun harus mengikuti tradisi wanita jawa saat itu, yakni di pingit. Kondisi ini membuatnya tidak bebas menuntut ilmu, adat yang mengekang kebebasan dan tidak bisa banyak beraktivitas diluar rumah.

Dari membaca buku, majalah hingga surat kabar eropa, ia tertarik dengan cara berpikir wanita eropa yang bebas dan maju ketimbang dengan wanita-wanita pribumi kala itu, sehingga timbul keinginan untuk memajukan para perempuan agar memperoleh kebebasan dan kesetaraan baik dalam kehidupan maupun di mata hukum.

Perjuangan tidak harus ke medan perang, Kartini menjadikan tulisan sebagai senjata perjuangannya hingga banyak pemikirannya yang menggetarkan jagat intelektual Belanda. Ditambah kesukaannya membaca buku terkait emansipasi wanita, seperti buku karya Louis Coperus (De Stille Kraacht), Van Eeden, Augusta de Witt, Multatuli (Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta) serta berbagai roman-roman beraliran feminis.

Selama dirumah Kartini tetap belajar dan berkirim surat dengan teman-temannya, seperti Rosa Abendanon dan Estelle “Stella” Zeehandelaar yang banyak berisi keluhan-keluhan tentang kehidupan wanita pribumi yang sulit untuk maju. Bahkan beberapa tulisannya juga dimuat dalam majalah De Hollandssche Lelie.

Berkat jasanya, R.A Kartini yang lahir di Jepara, Hindia Belanja, 17 September 1879 dan meninggal di Rembang, Hindia Belanda, 17 September 1904 ditetapkan sebagai pahlawan nasioal Indonesia. Berdasarkan Keppres Nomor 108 tahun 1964 pada 2 Mei 1964 dan memutuskan bahwa 21 April sebagai Hari Kartini.

Gambar Gravatar

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DISPUSIP) Kota Pekanbaru hadir sebagai salah satu wujud keseriusan Pemerintah Kota Pekanbaru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. DISPUSIP Kota Pekanbaru mengemban tugas untuk memberikan pelayanan yang terbaik di bidang perpustakaan dan Kearsipan.

Informasi Lainnya :

Tentang Penulis: DISPUSIP Kota Pekanbaru

Gambar Gravatar
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DISPUSIP) Kota Pekanbaru hadir sebagai salah satu wujud keseriusan Pemerintah Kota Pekanbaru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. DISPUSIP Kota Pekanbaru mengemban tugas untuk memberikan pelayanan yang terbaik di bidang perpustakaan dan Kearsipan.