Seandainya Angel Jadi Walikota – Lomba Menulis

oleh -214 views
Angel

Kita hidup dalam satu lingkaran yang merugikan hanya karena sampah dan kurangnya kesadaran masyarakat akan lingkungan. Mereka mungkin tidak menyadari ketika membuang satu plastik sampah ke sungai, akan ada seratus orang yang menirunya di kemudian hari. Karena manusia terikat dengan pemikiran “Jika mereka bisa melakukannya,kenapa saya tidak?” dan ironisnya hal ini diterapkan dalam kedua sisi, yang baik dan yang buruk. Ini menjadi salah satu penyebab kenapa sungai-sungai yang ada di kota, airnya tidak lagi bersih. Atau bisa dibilang, cukup berbahaya.

            Tahap selanjutnya yang menjadi masalah adalah banjir. Akibat sungai dan saluran air lainnya yang penuh sampah, sirkulasi air menjadi terhambat dan akan meluap jika hujan datang. Belakangan diterpa hujan sedikit saja, jalanan sudah akan tergenang banjir. Banyak masyarakat yang mengeluh tanpa menyadari bahwa secara tidak langsung keadaan ini disebabkan oleh mereka sendiri. Jadi siapa yang akan bertanggung jawab?

            Siapa yang harusnya bertanggung jawab jika lingkungan kita terlihat kotor? sebagian besar mungkin tidak akan menunjuk dirinya sendiri.

            Adipura belakangan ini terasa sangat jauh dari jangkauan karena kurangnya partisipasi masyarakat. Masa-masa kebanggaan dikenal sebagai kota yang terbersih kini hanya tinggal kenangan. Hanya sebatas penghargaan yang nyaris tidak terlihat lagi jejaknya. Lalu siapa yang bisa disalahkan? Beberapa menuding pemerintah gagal dalam menangani permasalahan sampah, namun tidakkah ada yang menyadari bahwa permasalahan itu sebenarnya bisa diatasi dengan hal sepele yang bahkan tidak sulit dilakukan? Membuang sampah pada tempatnya itu tidak sulit. Sejak awal mencicipi bangku sekolah kita selalu didikte dengan “Buang sampah pada tempatnya” dan kalimat “Membuang sampah sembarangan” nyaris tidak pernah luput dari 10 besar daftar kelakuan buruk yang harus dihindari. Tapi bagaimana dengan penerapan pada kenyataannya? Sedikit meragukan untuk dikatakan berhasil, karena saya masih banyak melihat orang berpendidikan yang membuang sampah sembarang di tempat umum tanpa memikirkan kenyamanan orang lain. kita semua dibesarkan dengan pendidikan moral, lalu ketika kita mengganggu kenyamanan orang lain dengan sampah yang kelihatannya sepele, apakah hal itu bisa dikatakan sebagai perbuatan yang pantas ditunjukkan di tempat umum? Tentu saja tidak. Manusia cenderung tidak ingin dirugikan, namun terkadang merugikan orang lain tanpa sadar. Buat apa disediakan tempat sampah jika akhirnya hanya digunakan sebagai pajangan bisu yang tergeletak tanpa daya melihat sampah disekelilingnya.

            Bahkan untuk didalam lingkungan sekolah yang sudah saya lihat dengan mata kepala sendiri, masalah buang sampah pada tempatnya itu tidak pernah terlaksana dengan sempurna. Kira-kira yang terjadi seperti ini:

“Mau buang dimana ya?”

“Jatuhin aja. Gaada yang lihat. Lagian disitu juga banyak sampah.”

Pahadal jarak tempat sampah terdekat tidak sampai 50 meter. Memangnya seberapa jauh sih? Secara sadar, kita sudah menjadi salah satu pengotor lingkungan. “Nambah satu aja kok, apa sih pengaruhnya?”. Jika dipikirkan secara logika, andaikata 7 miliar manusia di muka bumi melakukan hal yang sama, apa yang akan terjadi? Apa sih pengaruhnya? Bahkan anak sekolah dasar sekalipun bisa membayangkannya. Dalam cara paling sederhana untuk menjabarkannya, Bumi akan tenggelam oleh sampah. Terlihat sepele tapi dampaknya cukup besar. Lalu jika kita berimajinasi lebih jauh, apa yang akan terjadi? Banjir besar, longsor, ledakan gas metana yang tidak terkendali, polusi, dan udara yang rusak bisa saja menjadi ancaman serius di masa datang jika kita terus membudidayakan perilaku “Buang sampah sembarangan” ini.

Lalu solusinya? Dimulai dari kesadaran individu dan dilanjutkan oleh usaha-usaha pemerintah. Jika bukan kita, siapa lagi? Jika bukan sekarang, kapan lagi?

            Seandainya saya seorang walikota, apa yang akan saya lakukan? Saya akan merebut kembali gelar kota terbersih yang dulunya pernah menjadi milik kita. Dan untuk mewujudkan lingkungan bersih itu perlu dilakukan penangan sampah dan kesadaran dari masyarakat untuk ikut bekerja sama. Dimulai dari lingkungan sekolah yang menjadi dasar dunia kerja, saya akan memaksimalkan program Bank Sampah agar merata dan berjalan dengan baik di setiap sekolah.  Program ini sangat baik agar siswa paham bagaimana memilah sampah dan sekaligus menunjang Adiwiyata di sekolah yang melaksanakan. Saya sudah melihat pada awalnya banyak sekolah yang bersemangat menerapkan Bank Sampah, namun mendadak –sebagian –berhenti di tengah jalan. Aktivitas mengumpulkan sampah terus menyusut hingga menjadi nol dan pada akhirnya berhenti total. Saya akan berusaha memperbaiki hal ini agar program Bank Sampah dapat kembali berjalan seperti sedia kala.

            Di lingkungan masyarakat, saya akan membuka peluang lebih besar untuk Industri kreatif yang dapat memanfaatkan sampah untuk dijual kembali sebagai benda daur ulang. Jenis usaha ini dapat berupa kerajinan ataupun usaha daur ulang untuk memperoleh barang baru dengan kualitas yang baik dan dapat digunakan kembali. Hal ini juga efektif untuk mengurangi sampah dengan mendaur ulangnya menjadi lebih berguna ketimbang dibiarkan menumpuk di TPA. Di sisi lain, jenis usaha ini juga cukup menarik perhatian karena terbilang ramah lingkungan dan cukup unik di kalangan masyarakat.

            Sebagai sentuhan tambahan saya akan mengembangkan penampilan taman kota agar tampak lebih bersih dan asri dengan menambahkan penerangan untuk malam hari untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

            Saya juga akan menghimbau masyarakat agar lebih peduli akan sampah dan memberi sanksi bagi orang yang membuang sampah sembarangan di sungai. Tidak ada ruginya untuk belajar membuang sampah pada tempatnya. Karena satu aksi dari kita, akan ditiru oleh seribu orang di hari lainnya.

            Kalau tidak kita, Siapa lagi? Satu sampah pada tempatnya untuk lingkungan yang lebih baik. Ayo kita bangun kota yang lebih baik untuk kedepannya.

~o0o~

“Tulisan ini di ikut sertakan dalam Lomba Hari Jadi Kota Pekanbaru ke 233 Tahun 2017”

Angel

Nama Penulis : Angel

Nama Sekolah : SMKN 1 Pekanbaru

Gambar Gravatar

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DISPUSIP) Kota Pekanbaru hadir sebagai salah satu wujud keseriusan Pemerintah Kota Pekanbaru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. DISPUSIP Kota Pekanbaru mengemban tugas untuk memberikan pelayanan yang terbaik di bidang perpustakaan dan Kearsipan.

Informasi Lainnya :

Tentang Penulis: DISPUSIP Kota Pekanbaru

Gambar Gravatar
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DISPUSIP) Kota Pekanbaru hadir sebagai salah satu wujud keseriusan Pemerintah Kota Pekanbaru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. DISPUSIP Kota Pekanbaru mengemban tugas untuk memberikan pelayanan yang terbaik di bidang perpustakaan dan Kearsipan.